Notes on My 22: Menemukan Kekuatan di Tengah Kehilangan

Pertama kali terbit di Medium · Medium ↗

Beberapa jam lagi, tanggal akan berganti menjadi 2 Juli. Jakarta yang sama tempat saya dilahirkan 22 tahun silam akan menyaksikan satu lagi putaran bumi mengelilingi matahari dalam hidup saya.

Ada yang unik dari merayakan ulang tahun di pertengahan tahun. Seperti mendapat kesempatan kedua untuk merefleksikan separuh perjalanan, sebelum akhirnya menyambut separuh sisanya dengan perspektif yang lebih jernih.

Ketika Hidup Memaksa Kita Tumbuh

Di usia 21, saya mengira dunia akan bergerak sesuai rencana yang sudah saya susun rapi. Seorang mahasiswa IT semester 6 yang optimis, dengan passion tersembunyi di bidang hukum dan sejarah, berharap bisa menyeimbangkan logika pemrograman dengan jiwa humanis yang mengalir dalam darah.

Ternyata, hidup punya cara tersendiri untuk mengajarkan kita tentang ketidakpastian.

“Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always.”

Bulan Oktober 2024 menjadi garis pembatas yang membelah hidup saya menjadi “sebelum” dan “sesudah”. Seseorang yang mengajarkan saya arti ketulusan — dipanggil Yang Maha Kuasa karena penyakit yang tak bisa ditaklukkan. Dalam sekejap, saya harus belajar melepas sosok yang bahkan belum sempat saya persiapkan untuk kehilangan.

Yang lebih berat? Berjuang sendirian. Terpisah dari orang tua, jarang berbagi cerita dengan mereka, membuat saya harus menghadapi badai emosional itu dengan kekuatan yang bahkan saya tidak tahu dari mana datangnya.

Bangkit dengan Try Hard Mode: On

Ada momen ketika kita terpaksa mengaktifkan mode survival. Bukan karena ingin terlihat heroik, tapi karena memang tidak ada pilihan lain selain bangkit atau tenggelam.

Saya memilih bangkit — dengan cara yang bahkan saya sendiri terkaget.

Buku-buku menjadi teman setia. Halaman demi halaman saya lahap, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sulit saya artikulasikan. Dari filosofi Stoicism hingga biografi para pemimpin dunia, saya coba menemukan pola bagaimana manusia lain menghadapi kehilangan dan tetap melangkah maju.

Kemudian datang keputusan nekat: ikut bootcamp coding JavaScript tanpa basic sama sekali. Sebelumnya saya hanya familiar dengan PHP, tapi entah dorongan apa yang membuat saya berani terjun ke dunia yang sama sekali asing. Mungkin karena saya ingin membuktikan — entah kepada siapa — bahwa saya masih bisa belajar hal baru meskipun hati sedang terluka.

“The expert in anything was once a beginner who refused to give up.”

Burnout? Tentu saja. Ada malam-malam ketika syntax error terasa seperti cermin kehidupan saya yang juga penuh bug. Tapi setiap kali berhasil menyelesaikan satu challenge, saya merasa seperti sedang menyembuhkan sedikit demi sedikit luka yang menganga.

Bayangan dalam Setiap Pencapaian Kecil

Yang aneh dari proses grieving adalah bagaimana kita tetap ingin berbagi kebahagiaan dengan sosok yang sudah tidak ada. Setiap kali berhasil melewati satu tahap yang sulit — entah itu debugging code yang rumit atau memahami konsep baru — pikiran saya selalu melayang ke masa lalu.

“Andai dia bisa melihat ini,” gumam saya dalam hati.

Ada keyakinan dalam diri bahwa dia masih melihat. Dari tempat yang lebih tenang, mungkin dia sedang tersenyum bangga melihat betapa saya berusaha keras memanjat gunung yang curam ini. Mungkin rasa kehilangan itu sendiri yang terus membisikkan kekuatan ketika saya hampir menyerah.

Kompetisi dan Ambisi yang Masih Malu-Malu

Sekarang saya sedang mempersiapkan diri untuk COMPFEST IT UI dan tes TOEFL. Dua tantangan yang secara objektif cukup berat, apalagi untuk seseorang yang baru saja bangkit dari keterpurukan emosional.

Ada juga keinginan untuk mengasah skill negosiasi untuk freelance. Bukan karena saya sudah expert dalam programming, tapi karena saya sadar butuh pegangan finansial yang lebih mandiri. Ironisnya, skill negosiasi adalah hal yang sangat bertolak belakang dengan kepribadian saya yang cenderung introvert dan kadang insecure.

“Your limitation — it’s only your imagination.”

Insecurity yang Jujur

Kalau saya harus jujur — dan tulisan ini memang ruang untuk kejujuran — saya masih sering dihinggapi keraguan. Apakah saya akan bisa mapan? Bisakah saya membanggakan orang tua yang jarang saya ajak bicara tapi selalu saya doakan setiap malam? Atau setidaknya, bisakah saya bangga dengan pencapaian diri sendiri?

Paradoks yang lucu: meskipun sudah melewati banyak hal dan objektif bisa dibilang sudah berkembang jauh, saya masih belum sepenuhnya bangga dengan diri sendiri. Mungkin karena standar yang saya tetapkan terlalu tinggi, atau mungkin karena saya belum sepenuhnya memaafkan diri atas hal-hal yang tidak bisa saya kontrol.

Teman-Teman yang Berubah Jalur

Fase 22 juga mengajarkan saya tentang dinamika pertemanan yang berubah. Bukan karena ada drama atau konflik besar, tapi karena memang setiap orang mulai sibuk dengan jalur hidup masing-masing. Teman-teman yang dulu selalu available untuk ngobrol tengah malam, sekarang harus booking schedule untuk sekadar minum kopi bersama.

Ini wajar, dan saya belajar menerimanya sebagai bagian dari proses pendewasaan. Yang penting, saya tetap berusaha menjaga kualitas hubungan, meski frekuensinya berkurang.

Refleksi untuk Taufan yang Akan Datang

Kalau nanti saya membaca tulisan ini di usia 30 atau 40, saya ingin Taufan yang sudah lebih dewasa itu bisa tersenyum bangga. Bangga bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena selalu berusaha bangkit setiap kali terjatuh.

Saya ingin dia tahu bahwa Taufan usia 22 ini sudah berusaha semaksimal mungkin dengan sumber daya yang ada. Bahwa meskipun tidak selalu percaya diri, dia tetap memberanikan diri mengambil risiko. Bahwa meskipun kehilangan banyak hal, dia tidak kehilangan harapan.

“The best time to plant a tree was 20 years ago. The second best time is now.”

Doa untuk 22

Ya Allah, di usia 22 ini, berikan saya kekuatan untuk terus melangkah meski jalan terasa berat. Berikan saya kebijaksanaan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kecerdasan untuk membedakan keduanya.

Semoga dia bahagia di tempat yang lebih baik. Semoga orang tua saya selalu dalam lindungan-Mu meski kami jarang berbicara. Semoga teman-teman yang mulai menempuh jalan berbeda mendapat kemudahan di setiap langkah mereka.

Dan untuk diri saya sendiri: semoga tahun ini menjadi fondasi yang kuat untuk membangun versi terbaik dari diri saya.

Selamat ulang tahun untuk diri sendiri. Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini.

— -

Jakarta, 2 Juli 2025

← Semua tulisan